Semua
punya tangga harapan. Tangga harapannya beda- beda. Ada tangga yang panajangnya
2 meter, ada yang empat meter, atau tangga kaki empat dari almunium (tangga
manten, karena kakinya jejer empat), ada tangga yang panjang sekali, terbuat
dari tali yang digunakan untuk penyelamatan. Semua mempunya tujuan dan fungsi
yang berbeda, disesuaikan kebutuhannya.
Ada minimal
kompetensi yang harus di miliki tiap orang. Yaitu kompetensi
di rumah tangga, yang kedua kompetensi di tempat bekerja dan ketiga
kompetensi dimana tinggal. Kompetensi di rumah tangga tentunya sangat
dipengaruhi gaya tiap orang. Misalnya dapat mengendalikan, mengarahkan keluarga
ke arah jalan yang telah disepakati visinya, sehingga ketika sudah berbelok
dari tujuan, juga harus mengingatkan dengan watawa shaubil haq ini, tentu untuk
suami. Untuk istri tentu harus paham segala apa yang perlu disiapkan untuk
anggota keluarga, salah satunya misalnya tersedianya sarapan dan masih banyak lagi, Meskipun masih
disebukan dengan bekerja. Masih banyak lagi tentunya kompetensi-kompetensi yang
dibutuhkan untuk dapat menjalakan laju gerbong anggota keluarga., misalnya
komunikasi, saling memahami saling menyayangi dan sebagainya.
Kompetensi di tempat keberja tentunya akan lebih komplek lagi. Hal ini
tergantung dari pekerjaan yang diamanahkan. Paling tidak ya memahami dulu apa
yang menjadi tugasnya, kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi serta melayani
terhadap yang membutuhkan pekerjaan. Lalu mengerjakanya, sehingga upahnya sudah
halal, karena telah terpenuhi pekerjaanya. Masing –masing personil akan berbeda
kompetensinya. Misalanya seorang penerima telpon harus dapat menggunakan
peralatan komunikasi, mempunyai suara yang bagus, dapat berkomunikasi dengan
orang lain, punya tata krama dan lain sebagainya.
Kompetensi
ketiga, kompetensi
lingkungan, yakni ketika kita berada dilingkungan tempat tinggal kita. Ada
orang yang aktif dikegiatan dimasyarakat karena ingin bersosialisasi, ada yang
aktif juga kemudian punya jabatan sosial di masyarakat, ini hanya orang-orang
tertentu. Tapi ada juga masyarakat yang tidak mau tahu apa yang ada di
sekitarnya, ini banyak faktor tentunya. Orang –orang yang punya jiwa sosial akan selalu ikut ambil bagian. Tak kan pernah
hitung berapa materi yang dikeluarkan atau bahkan memikirkan apa yang
didapatkan. Untuk masalah itu Tuhan yang kan menganti. Orang –orang yang terlau
banyak memikirakn materi, meskipun materi itu perlu, tentu akan lebih lola
(loading lambat) atau kepekaan sosialnya tidak dominan, akan sangat terpaksa
bila harus bermasyarakat. Karena masih hitung-hitung untung atau hitung-hitung
tomboknya.
Tidak
mudah menjadi orang yang kompeten
seratus persen, meski minimal yang diatas dijalankan tentu sudah
mencukupi untuk hablu minannas.. Tapi kita harus mengup grade kan kompetensi
untuk kemudahan menjalani
hidup ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar