Senin, 08 Oktober 2012

100 % kompeten

Dalam perjalanan manusia, tentunya selalu tumbuh dan berkembang. Yang dulunya hidup sendiri, kemudian punya pasangan untuk hidup bersama. Yang dulunya gak punya apa-apa sekarang punya meskipun seadanya. Kita kadang punya fanstasy,  imagy  bahkan dreamy... yang semuanya pingin 100 %...... kun fayakun, abrakadaba.... atau pinjam pak tarno... pro..prok..prok.. kemudian ada. Itulah manusia. Kalau tidak ada dinamisasi ya bukan manusia, tapi benda mati yang hidup.
Semua punya tangga harapan. Tangga harapannya beda- beda. Ada tangga yang panajangnya 2 meter, ada yang empat meter, atau tangga kaki empat dari almunium (tangga manten, karena kakinya jejer empat), ada tangga yang panjang sekali, terbuat dari tali yang digunakan untuk penyelamatan. Semua mempunya tujuan dan fungsi yang berbeda, disesuaikan kebutuhannya.
Ada minimal kompetensi yang harus di miliki tiap orang. Yaitu kompetensi di rumah tangga, yang kedua kompetensi di tempat bekerja dan ketiga kompetensi dimana tinggal. Kompetensi di rumah tangga tentunya sangat dipengaruhi gaya tiap orang. Misalnya dapat mengendalikan, mengarahkan keluarga ke arah jalan yang telah disepakati visinya, sehingga ketika sudah berbelok dari tujuan, juga harus mengingatkan dengan watawa shaubil haq ini, tentu untuk suami. Untuk istri tentu harus paham segala apa yang perlu disiapkan untuk anggota keluarga, salah satunya misalnya tersedianya sarapan  dan masih banyak lagi, Meskipun masih disebukan dengan bekerja. Masih banyak lagi tentunya kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk dapat menjalakan laju gerbong anggota keluarga., misalnya komunikasi, saling memahami saling menyayangi dan sebagainya.
Kompetensi di tempat keberja  tentunya akan lebih komplek lagi. Hal ini tergantung dari pekerjaan yang diamanahkan. Paling tidak ya memahami dulu apa yang menjadi tugasnya, kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi serta melayani terhadap yang membutuhkan pekerjaan. Lalu mengerjakanya, sehingga upahnya sudah halal, karena telah terpenuhi pekerjaanya.  Masing –masing personil akan berbeda kompetensinya. Misalanya seorang penerima telpon harus dapat menggunakan peralatan komunikasi, mempunyai suara yang bagus, dapat berkomunikasi dengan orang lain, punya tata krama dan lain sebagainya.
Kompetensi ketiga,  kompetensi lingkungan, yakni ketika kita berada dilingkungan tempat tinggal kita. Ada orang yang aktif dikegiatan dimasyarakat karena ingin bersosialisasi, ada yang aktif juga kemudian punya jabatan sosial di masyarakat, ini hanya orang-orang tertentu. Tapi ada juga masyarakat yang tidak mau tahu apa yang ada di sekitarnya, ini banyak faktor tentunya. Orang –orang yang punya jiwa sosial  akan selalu ikut ambil bagian. Tak kan pernah hitung berapa materi yang dikeluarkan atau bahkan memikirkan apa yang didapatkan. Untuk masalah itu Tuhan yang kan menganti. Orang –orang yang terlau banyak memikirakn materi, meskipun materi itu perlu, tentu akan lebih lola (loading lambat) atau kepekaan sosialnya tidak dominan, akan sangat terpaksa bila harus bermasyarakat. Karena masih hitung-hitung untung atau hitung-hitung tomboknya.
Tidak mudah menjadi orang yang kompeten  seratus persen, meski minimal yang diatas dijalankan tentu sudah mencukupi untuk hablu minannas.. Tapi kita harus mengup grade kan kompetensi untuk kemudahan menjalani hidup ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar