Selasa, 24 Juli 2012

penuh harapan

 
Berpikir positif, itulah kekuatan yang dapat menguatkan tubuh. Pikiran positif penuh berbagai harapan yang akan menyegarkan pikiran,membuat tubuh selalu dinamis untuk bergerak sesuai visi yang akan dicapai.Tidak hanya itu pikiran postif membuat  manusia mengerjakan apa yang disenanginya, baik sekedar pelepas eksistensi diri, atau untuk prestasi sebuah value secara ekonomi.
Bulan romadhan adalah bulan penuh pengharapan, dimana semua pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu neraka ditutup kuat kuat  dan semua setan dibelenggu. Namun mengapa masih ada orang yang tidak mempunyai keberdayaan ketika harapan baik itu telah dijanjikan? Ya, ini tentunya dikalahkan dengan pikiran-pikiran yang tidak positif, ataupun tidak menguatkan diri dengan harapan harapan yang baik. Pada hal Nabi telah menjamikan mutu, dalam segala kehidupan kita bahwa, hari ini harus lebih baik dari hari kemarian, sedangkanesok harus lebih sangat baik dengan hari ini.
Puasa ramdahan telah dijelaskan dalam QS. Al baqarah 183 sampai 187. Dari inti ayat itu diakhiri dengan fi’il mudhari (present future). 183 la’alakum tatakun, 184 in kuntum ta’lamun, 185 la’alakum taskurun, 186 la’alakum yarsudun, 187 l’alakum yatakun. Berpuasa adalah berwawasan masa kini dan mendatang. Ketaqwaan itu : mengawali, menyertai, mengakhiri dan menindak lanjuti. Pada ayat 184 (la’ala) sebagai kata taraji’ atau harapan. Yaitu ramadhan merupakan harapan untuk perubahan, peningkatan kearah lebih baik dan bermakna.
Harapan:
1.    Jadi orang yang taqwa (la’alakum tatakun)  yaitu orang yang anti maksiat
2.    Jadi orang berilmu (la’alakum ta’lamun) yaitu menggali ketaqwaan dengan ilmu dan mengembangkannya. Ilmu dan taqwa  sebagi indentitas muslim.
3.    Jadi orang yang bersyukur (la’alakum taskurun). Bersyukur adalah nilai positif. Perasa lapar adalah hak tubuh, kegembiraan adalah saat berbuka dan bertemu Tuhan.
4.    Jadi orang yang mendapat petunjuk dalam kebenaran (la’alakum yarsudun ) yaitu mendekatkan diri pada Allah dengan jalan kebenaran dan kesungguhan berdo’a.
5.    Jadi orang yang selalu bertaqwa (la’alakum yattakun) yaitu tahu pantas dan batas. Tahu diri dapat mengendalikan hawa nafsu, Tahu batas yaitu tahu larangan dan tahu pantas adalah performance

Tidak ada komentar:

Posting Komentar