Berpikir positif, itulah kekuatan
yang dapat menguatkan tubuh. Pikiran
positif penuh berbagai harapan yang
akan menyegarkan pikiran,membuat tubuh selalu dinamis untuk bergerak sesuai
visi yang akan dicapai.Tidak hanya itu pikiran postif membuat manusia mengerjakan apa yang disenanginya,
baik sekedar pelepas eksistensi diri, atau untuk prestasi sebuah value secara
ekonomi.
Bulan romadhan adalah bulan penuh
pengharapan, dimana semua pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu neraka
ditutup kuat kuat dan semua setan
dibelenggu. Namun mengapa masih ada orang yang tidak mempunyai keberdayaan
ketika harapan baik itu telah dijanjikan? Ya, ini tentunya dikalahkan dengan
pikiran-pikiran yang tidak positif, ataupun tidak menguatkan diri dengan
harapan harapan yang baik. Pada hal Nabi
telah menjamikan mutu, dalam segala kehidupan kita bahwa, hari
ini harus lebih baik dari hari kemarian, sedangkanesok harus lebih sangat baik
dengan hari ini.
Puasa ramdahan telah dijelaskan
dalam QS. Al baqarah 183 sampai 187. Dari inti ayat itu diakhiri dengan fi’il mudhari (present future). 183 la’alakum
tatakun, 184 in kuntum ta’lamun, 185 la’alakum taskurun, 186 la’alakum yarsudun,
187 l’alakum yatakun. Berpuasa adalah berwawasan
masa kini dan mendatang. Ketaqwaan itu : mengawali, menyertai, mengakhiri dan menindak lanjuti. Pada ayat
184 (la’ala) sebagai kata taraji’ atau
harapan. Yaitu ramadhan merupakan harapan untuk perubahan, peningkatan
kearah lebih baik dan bermakna.
Harapan:
1.
Jadi orang yang taqwa (la’alakum tatakun) yaitu orang
yang anti maksiat
2.
Jadi orang berilmu (la’alakum ta’lamun) yaitu menggali ketaqwaan dengan ilmu dan
mengembangkannya. Ilmu dan taqwa sebagi
indentitas muslim.
3.
Jadi orang yang bersyukur (la’alakum taskurun). Bersyukur adalah nilai positif. Perasa lapar
adalah hak tubuh, kegembiraan adalah saat berbuka dan bertemu Tuhan.
4.
Jadi orang yang mendapat petunjuk dalam
kebenaran (la’alakum yarsudun )
yaitu mendekatkan diri pada Allah dengan jalan kebenaran dan kesungguhan berdo’a.
5.
Jadi orang yang selalu bertaqwa (la’alakum yattakun) yaitu tahu pantas
dan batas. Tahu diri dapat mengendalikan hawa nafsu, Tahu batas yaitu tahu
larangan dan tahu pantas adalah performance

Tidak ada komentar:
Posting Komentar