Syekh Ibrahim bin Adham (718-782)merupakan seorang sufi yang berpengaruh besar dalam sejarah Islam. Tokoh yang berdarah Arab itu lahir di Khurasan, tepatnya Kota Balkh, kini bagian dari Afghanistan. Keluarganya menetap di wilayah tersebut setelah bermigrasi dari Kufah, Irak.
Dalam Tadzkirat al-Auliya, terdapat
selayang pandang cerita yang tentang sifat amanah sang salik. Ibrahim bin Adham
berkata, "Aku pernah menjadi seorang penjaga kebun. Pada suatu hari, sang
pemilik kebun datang. Ia memintaku untuk mencarikan buah-buah delima yang
masak. Aku pun mengambilkan untuknya sejumlah buah delima. Ternyata, buah-buahan
itu rasanya masam. Maka, aku mencari lagi buah delima lainnya yang kupikir
masak. Sekeranjang buah-buah ini kuberikan kepadanya. Rasanya masam juga.
Majikanku berkata, `Bagaimana kau ini? Sudah lama menjadi penjaga kebun, tetapi masih tak bisa juga membedakan antara delima yang masak dan masam?' Kukatakan kepadanya, `Aku ini penjaga kebun. Tugasku bukanlah memakan buah delima, apalagi mencicipi mana yang masam dan yang masak.' Ia kemudian berkata, `Dengan sikap amanah ini, engkau pasti Ibrahim bin Adham.' Setelah itu, aku pergi meninggalkan kebun tersebut."
Kisah
lainnya menggambarkan kecermatan Syekh Ibrahim dalam hidup. Ia selalu
mengutamakan warak, yakni menjauhi perkara-perkara yang syubhat, apalagi yang
haram. Apabila barang yang dimiliki atau dikonsumsinya belum jelas betul status
kehalalannya, pantang baginya untuk menikmati barang tersebut.
Pada
akhir musim haji, sufi tersebut baru saja usai menunaikan rukun Islam kelima.
Ia berniat melanjutkan rihlahnya ke Baitul Makdis. Ingin sekali berziarah dan
beribadah di Masjid Al Aqsa.
Sebelum
bertolak ke Palestina, Ibrahim menyambangi sebuah pasar di pinggiran
Makkah.Untuk bekal perjalanan, dirinya pun membeli sekeranjang kurma dari
seorang pedagang tua di sana.
Setelah
kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat ada sebutir kurma yang
tergeletak di bawah wadah timbangan. Disangkanya, sebutir kurma kecil itu
adalah bagian dari buah-buahan yang dibelinya. Usai membayar, ia pun langsung
berangkat menuju Al Aqsa.
Sesudah
menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya lelaki ini tiba
di tujuan. Seperti biasa, dirinya memilih tempat ibadah di bawah atap Kubah
Batu. Saat sedang berzdikir, tiba-tiba ia mendengar suara percakapan dua
malaikat dari arah atas.
"Lihatlah,
ini Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah yang doa-doanya selalu dikabulkan
Allah," kata malaikat pertama.
"Namun,
kini tidak lagi. Doanya tertolak karena beberapa bulan lalu ia memakan sebutir
kurma yang ditemukannya di dekat wadah timbangan seorang pedagang tua di
Makkah," timpal malaikat kedua.
"Astaghfirullah
al-'azim! seru Ibrahim. Ia sangat terkejut dan menyadari kesalahannya
itu.Seketika, sufi ini bangkit dan bergegas pergi ke Makkah.
Akhirnya,
sampailah ia ke pasar yang dahulu dikunjunginya. Sayang, pedagang tua itu sudah
meninggal dunia. Kini, yang menjaga toko buah tersebut adalah putranya. Setelah
menjelaskan secara detail pokok persoalan, anak itu mengaku tidak
mempermasalahkan buah yang telah dimakan Ibrahim.
Namun,
kata pemuda itu lagi, "Sesungguhnya, ayahku memiliki banyak anak.
Jumlahnya 11 orang. Tidak hanya aku, tetapi ada juga saudara-saudaraku. Aku
tidak berani mengatasnamakan mereka yang mempunyai hak waris yang sama denganku
terkait dengan urusan Tuan ini."
Setelah
meminta alamat mereka masing- masing, Ibrahim langsung pergi menemui para anak
almarhum itu satu per satu. Walau jarak rumahnya berjauhan, selesai juga
permohonan maaf Ibrahim. Mereka semua setuju untuk menghalalkan sebutir kurma
milik ayah mereka dahulu yang termakan sang mursyid.
"Lihatlah,
ini Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah yang doa-doanya selalu dikabulkan
Allah."
https://www.republika.co.id/berita/rcpuo7320/sebutir-kurma-dialog-dua-malaikat-dan-kehatihatian-ibrahim-bin-adham

Tidak ada komentar:
Posting Komentar