Senin, 11 Februari 2019

dimana kita dan kita mau kemana

*ANTARA MOTIVASI DAN STRATEGI*
Rohmatunnazilah
_E-BrandComm_
_Chief Marketing Officer_
===========
Membaca "Disruption" karya Rhenald Kasali yang kaya data dan gambaran tentang era disrupsi saat ini serasa diombang-ambing dari era revolusi industri hingga ke era ketidakpastian yang pasti baru sedikit saja dari kita menyadarinya.
Sekitar tahun 90an, sekolah-sekolah swasta mengandalkan nama besar yayasan maupun anak siapa yang bersekolah di situ. Perusahaan demikian juga. Nama besar pendiri menjadi kunci setelah berhasil membesarkan brand produk mereka. Siapa sangka mereka sekarang gulung tikar diobrak-abrik oleh para anak muda ahli IT melalui platform aplikasi yang mereka ciptakan. Demikian pun sekolah-sekolah yang dulunya tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat, saat ini tidak takut bangkit menggerus sekolah yang lebih mapan. Tidak ada lagi ketakutan sekolah di kota kecil melakukan inovasi. Akhirnya masyarakat semakin jeli dan pandai melihat keunggulan sekolah ini.
Sekolah yang sudah mapan tadinya, harus belajar pada perusahaan-perusahaan besar agar tidak kolaps dan mampu bertahan. Logika senioritas akan kalah dengan usaha dan dedikasi.
“Motivasi saja tidak cukup. Yang diperlukan saat ini adalah strategi untuk membaca ‘where we are’ dan ‘where we are going to’ “, adalah kalimat dari Rhenald Kasali dalam Disruption.
Tak peduli dengan istilah yang disematkan pada mereka, para anak muda ini menabrak aturan hukum yang berlaku hingga disematkan kata ‘anak haram’ pada mereka. Bahkan negara-pun tak mampu menjerat mereka dengan pajak karena mereka _invisible_ dan _untouchable_.
Selayaknya juga tiba-tiba sekolah kecil dengan jumlah murid 30an saat ini melaju dengan kecepatan torpedo menggilas sekolah mapan. Mereka hanya melihat trend dan keinginan masyarakat sebagai konsumennya. Arah yang jelas dan terukur adalah tujuan mereka. Mereka tahu apa yang mereka tuju dan bagaimana mendapatkannya. _They know why and how_.
Menjelang PPDB 2019, sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta harus keroyokan mendapatkan muridnya. Ada yang bertanya ketika saya merencanakan sebuah keunggulan untuk skolah yang berada di pinggir desa. Pertanyaannya, jangkauan ekonomi masyarakat di sini tidaklah tinggi. Mereka hanya petani dan pedagang kecil jadi tidak mungkin menaikkan SPP dengan situasi ini. Jawaban saya adalah, kita akan menembus ruang. Tidak ada yang bisa melawan magnit sebuah sekolah unggul. Yang memiliki brand prestasi yang dibutuhkan masyarakat.
Sebuah sekolah di Gunungkidul dengan peserta didik dari berbagai kota memberi inspirasi karena dia berhasil menembus mainstream bahwa sekolah yang berlokasi di daerah yang tadinya tandus itu dengan ekonomi masyarakat yang kalah dibanding kota besar lainnya telah menjadi bukti bahwa keunggulan mampu menembus jarak.
Sebuah institusi saat ini tidak lagi butuh sekedar motivasi. Motivasi hanya bergerak pada urusan hasrat yang tidak akan menghasilkan apapun tanpa tahu cara mendapatkannya. _To know why we should do and how to get that_ adalah kuncinya.
Akhirnya strategi bagaimana mencapai targetlah yang penting. Bagaimana saat ini SDM guru harus mampu menghadapi generasi Z pada level SMP dan SMA dan generasi Alpha pada level SD. Bagaimana guru saat ini mampu menyiapkan murid-murid ini menghadapi era tidak pasti (disrupsi) seperti saat ini. Bagaimana managemen harus memahami kebutuhan-kebutuhan strategi ini adalah kunci keberhasilan sebuah institusi. Kecepatan berpikir, merencanakan dan bertindak adalah solusinya.
Bagaimana dengan sekolah/institusi anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar